Perekonomian China kembali menunjukkan daya tahan pada kuartal kedua tahun 2025. Berdasarkan data resmi dari Biro Statistik Nasional China, produk domestik bruto (PDB) negeri tirai bambu ini tumbuh sebesar 5,2 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini meskipun sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya, tetap memperlihatkan ketahanan ekonomi di tengah tekanan domestik dan global yang belum mereda.
Kinerja positif ini sebagian besar didorong oleh peningkatan ekspor dan belanja pemerintah, yang berhasil meredam pelemahan konsumsi rumah tangga serta tekanan di sektor properti. Namun, di balik angka pertumbuhan ini, tersimpan tantangan struktural yang terus membayangi ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Penopang Utama: Ekspor Bangkit
Ekspor China secara mengejutkan mencatatkan lonjakan pada kuartal kedua 2025, melawan tren penurunan yang sempat terjadi pada akhir 2024 hingga awal tahun ini. Permintaan luar negeri terhadap produk manufaktur, elektronik, serta barang-barang konsumsi seperti perangkat rumah tangga dan tekstil meningkat di sejumlah pasar kunci seperti Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.
Pemulihan rantai pasok global yang lebih stabil, serta penguatan hubungan perdagangan bilateral dengan beberapa negara berkembang turut berkontribusi pada pertumbuhan ekspor. Sektor ini menjadi penyelamat utama dalam menjaga keseimbangan pertumbuhan, terutama saat konsumsi domestik mulai melemah.
Menurut analis, lonjakan ekspor menunjukkan bahwa China masih sangat bergantung pada permintaan global. Hal ini bisa menjadi kekuatan sekaligus kerentanan, karena ketidakpastian ekonomi global dapat langsung berdampak pada kinerja perdagangan luar negeri.
Konsumsi Domestik Masih Lemah
Meskipun ada pertumbuhan secara keseluruhan, konsumsi rumah tangga di China belum sepenuhnya pulih. Data penjualan ritel menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya. Penyebab utamanya adalah melemahnya kepercayaan konsumen dan ketidakpastian pasar tenaga kerja.
Tekanan dari sektor properti juga turut memengaruhi daya beli masyarakat. Banyak keluarga yang memilih menahan pengeluaran besar karena kekhawatiran akan kestabilan keuangan pribadi. Hal ini tercermin dari melambatnya penjualan kendaraan, peralatan rumah tangga, serta barang-barang mewah.
Selain itu, generasi muda di China juga cenderung lebih berhati-hati dalam pengeluaran. Pola konsumsi mereka lebih mengarah pada kebutuhan pokok dan layanan digital daripada belanja produk fisik. Perubahan perilaku ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mendorong pertumbuhan konsumsi jangka panjang.
Investasi Pemerintah dan Infrastruktur
Sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah China terus mendorong investasi infrastruktur. Belanja publik untuk proyek jalan, rel kereta api, energi hijau, dan teknologi tinggi meningkat tajam sepanjang kuartal kedua 2025. Langkah ini tidak hanya menyerap tenaga kerja tetapi juga memberi stimulus langsung ke sektor-sektor terkait.
Kebijakan fiskal ekspansif dan insentif bagi pelaku usaha kecil dan menengah juga turut membantu menopang pertumbuhan. Namun, beberapa analis mengingatkan bahwa ketergantungan pada belanja pemerintah bisa menjadi beban fiskal jangka panjang, terutama jika tidak dibarengi dengan peningkatan konsumsi dan investasi swasta.
Program digitalisasi ekonomi, pembangunan zona industri berbasis teknologi, serta dorongan untuk mengembangkan industri kendaraan listrik masih menjadi prioritas dalam agenda pembangunan jangka menengah China.
Sektor Properti Masih Menjadi Beban
Meski ada perbaikan di beberapa sektor, sektor properti China belum menunjukkan tanda pemulihan yang signifikan. Banyak pengembang besar masih menghadapi masalah likuiditas, sementara permintaan pasar hunian baru stagnan. Harga rumah di kota-kota besar relatif tidak bergerak, sementara di kota lapis kedua dan ketiga cenderung menurun.
Krisis kepercayaan terhadap sektor properti masih terasa kuat. Konsumen menunda pembelian rumah, dan investor enggan menggelontorkan dana untuk proyek-proyek baru. Pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menstabilkan sektor ini, termasuk pelonggaran kredit perumahan dan dukungan keuangan bagi pengembang strategis, namun dampaknya belum terlihat nyata.
Sektor properti yang selama ini menjadi kontributor besar dalam PDB dan lapangan kerja masih menyimpan risiko sistemik yang bisa menekan ekonomi nasional jika tidak tertangani dengan hati-hati.
Proyeksi ke Depan: Tantangan dan Peluang
Meski pertumbuhan 5,2 persen pada kuartal kedua dapat dianggap cukup sehat, banyak tantangan yang masih harus dihadapi China di paruh kedua tahun ini. Ketegangan geopolitik, kemungkinan perlambatan ekonomi global, serta ketergantungan pada ekspor menjadi faktor risiko utama.
Pemerintah China kemungkinan akan terus mengandalkan kebijakan moneter dan fiskal yang akomodatif. Bank Sentral China telah beberapa kali memangkas suku bunga untuk mendukung aktivitas ekonomi, dan langkah-langkah serupa kemungkinan masih akan berlanjut jika tekanan ekonomi meningkat.
Di sisi lain, China juga memiliki peluang besar dalam sektor teknologi dan energi terbarukan. Negara ini terus berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan kecerdasan buatan, semikonduktor, dan mobil listrik. Jika diarahkan dengan tepat, sektor-sektor ini bisa menjadi mesin pertumbuhan baru dalam jangka panjang.
Analisis Ekonom: Pertumbuhan yang Ditopang Ekspor Belum Berkelanjutan
Para ekonom mencermati bahwa meski angka pertumbuhan terlihat stabil, struktur pertumbuhan masih belum ideal. Ketergantungan pada ekspor dan belanja pemerintah menunjukkan bahwa sektor konsumsi dan properti, dua tulang punggung pertumbuhan ekonomi domestik, masih belum pulih sepenuhnya.
Untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan, China perlu memperkuat kepercayaan konsumen, memperbaiki kondisi sektor properti, dan mendorong inovasi di sektor swasta. Tanpa perbaikan struktural yang nyata, pertumbuhan bisa saja stagnan atau bahkan menurun di tengah gejolak global yang semakin kompleks.
Sebagian besar analis sepakat bahwa pertumbuhan 5,2 persen merupakan pencapaian yang baik di tengah tantangan global. Namun, pekerjaan rumah bagi pemerintah China masih banyak agar pertumbuhan ini benar-benar inklusif dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Ekspor menjadi motor utama yang menyelamatkan ekonomi dari perlambatan lebih dalam. Namun, tantangan dari sektor konsumsi, properti, serta ketidakpastian global tetap membayangi.
Keseimbangan antara stimulus jangka pendek dan reformasi struktural jangka panjang menjadi kunci agar China tidak hanya tumbuh, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan dalam menghadapi era ekonomi global yang terus berubah.








